Oleh :Yohan Tio P. Sihite Nim : 2233510005 ( Mahasiswa UNIMED Prodi Sastra Indonesia)
TAJOM.ID – Keanekaragaman warisan sastra dan budaya nenek moyang kita tidak ternilai harganya, khususnya cerita-cerita rakyat di wilayah Sunda yang selama ini tampaknya belum banyak diteliti secara akademis. Masih banyak cerita rakyat yang tersebar di wilayah Sunda belum terinventarisasi. Kekayaan bangsa yang berupa cerita rakyat daerah Sunda ini harus dilestarikan dan dikembangkan untuk memperkuat dan memperkaya kebudayaan nasional. Pada dasarnya cerita rakyat adalah kepercayaan, legenda, dan adat istiadat suatu bangsa yang sudah ada sejak lama, diwariskan turuntemurun secara lisan dan tertulis. Bentuk cerita rakyat bisa berupa nyanyian, cerita, peribahasa, teka-teki, bahkan permainan anak-anak (Sudjiman,1986:29). Cerita rakyat mencakup kepercayaan, adat istiadat, dan upacara yang dijumpai dalam masyarakat dan juga dalam bendabenda yang dibuat manusia yang erat kaitannya dengan kehidupan spiritual. Cerita tersebut misalnya berisi larangan untuk tidak berbuat sesuatu yang berlawanan dengan norma kehidupan (Moeis, 1988:127—128). Cerita rakyat ini merupakan bagian dari sastra lisan dan memiliki fungsi yang amat penting bagi masyarakat pendukungnya. Sebagai salah satu bagian budaya, cerita rakyat hidup dan menjadi milik masyarakat pada masa lampau yang dipelihara oleh pendukungnya secara turun-temurun. Cerita rakyat pada umumnya tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan yang jauh dari perkotaan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa cerita rakyat tidak terdapat di masyarakat kota yang telah terlebih dahulu mengenal tulisan. Pada masyarakat yang belum atau baru sedikit mengenal tulisan, peranan cerita rakyat lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang sudah mengenal tulisan.
Analisis pada Cerita Sangkuriang
Cerita Sangkuriang memperlihatkan dinamika psikologis kompleks antara anak dan ibu, terutama melalui pola hubungan yang dapat dipahami menggunakan konsep Oedipus Complex. Freud menjelaskan bahwa pada tahap tertentu, seorang anak laki-laki memiliki dorongan bawah sadar untuk menyayangi ibunya secara berlebihan, bahkan ingin “memiliki” figur ibu. Dalam cerita ini, ketidaksadaran Sangkuriang mengenai identitas Dayang Sumbi membuka ruang bagi terwujudnya dorongan Oedipal tersebut. Ia terpikat pada kecantikan Dayang Sumbi tanpa mengetahui bahwa wanita itu adalah ibunya. Ketertarikan tersebut menunjukkan mekanisme bawah sadar yang digerakkan oleh id (naluri cinta, hasrat, dan egoisme) yang tidak disaring oleh superego karena ketidaktahuan terhadap norma moral.
Konflik meningkat ketika Dayang Sumbi menyadari bekas luka Sangkuriang dan mengetahui bahwa putranya berhasrat menikahinya. Pada tahap ini, Dayang Sumbi menjalankan fungsi superego, yaitu sumber larangan moral dan kendali sosial. Ia menyadari bahwa hubungan mereka tidak mungkin terjadi dan berusaha menegakkan norma dengan memberi syarat mustahil yang harus dipenuhi. Tindakan memberi syarat besar ini dapat dibaca sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) berupa displacement dan rationalization—Dayang Sumbi mengalihkan ketakutannya dan kecemasannya terhadap hubungan terlarang itu dengan cara simbolik melalui tugas-tugas berat.
Sementara itu, Sangkuriang yang didominasi oleh id bereaksi dengan kemarahan ketika syaratsyarat tersebut gagal dipenuhi. Kemarahan destruktifnya, seperti menghancurkan bendungan dan menendang perahu hingga menjadi gunung, merupakan bentuk pelampiasan agresi dari naluri thanatos (naluri kehancuran). Ketidakmampuan mengontrol dorongan membuat Sangkuriang bertindak impulsif dan destruktif. Pada akhirnya tokoh ini “ngahiyang” (menghilang), yang dalam psikoanalisis dapat dimaknai sebagai simbol hancurnya ego ketika berada dalam konflik besar antara hasrat, realitas, dan moral. Dengan demikian, cerita ini menampilkan bagaimana benturan antara id (hasrat terhadap ibu), ego (usaha mewujudkan syarat), dan superego (larangan moral dari Dayang Sumbi) menghasilkan kehancuran psikologis dan fisik.
Analisis Cerita Batu Menangis
Cerita rakyat Batu Menangis mengisahkan seorang gadis yang cantik tetapi sombong. Ia tinggal bersama ibunya yang miskin di sebuah desa kecil. Suatu hari, gadis itu memaksa ibunya membelikannya pakaian baru dan perhiasan mahal, meskipun keluarga mereka tidak mampu. Ketika berjalan-jalan di pasar mengenakan pakaian baru itu, sang gadis merasa malu dengan penampilan ibunya yang sederhana. Dengan penuh rasa angkuh, ia menolak mengakui bahwa wanita tua itu adalah ibunya sendiri. Mendengar penghinaan dari anaknya, sang ibu yang patah hati berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi pelajaran. Sebagai jawaban atas doa tersebut, tubuh sang gadis perlahan berubah menjadi batu. Ketika ia menyadari kesalahannya, gadis itu menangis memohon ampun, tetapi segalanya sudah terlambat. Air matanya terus mengalir hingga tubuhnya sepenuhnya menjadi batu (Sari, 2015). Buku Kisah Batu Menangis termasuk dalam genre sastra rakyat atau folklore, yang berisi cerita rakyat dari suatu daerah. Cerita ini menggambarkan hubungan manusia dengan alam, nilai moral, dan kepercayaan masyarakat setempat. Ciri utama dalam cerita ini adalah penggunaan gaya bahasa sederhana namun penuh makna, penggambaran latar yang menggambarkan keindahan alam, serta pesan moral yang mendalam. Dalam cerita Batu Menangis, tema utama yang sering muncul adalah karma dan bakti kepada orang tua. Tokoh dalam cerita tersebut biasanya berperan sebagai representasi karakter baik dan buruk, memberikan pembelajaran moral kepada pembaca.
Cerita Batu Menangis menggambarkan konflik antara naluri egoistik anak dan rasa kasih seorang ibu. Tokoh gadis sombong digambarkan memiliki ego yang lemah dan id yang dominan. Kesombongan, keinginan dipuji, dan penolakannya terhadap ibunya mencerminkan dorongan narsistik—yaitu kebutuhan obsesif untuk terlihat sempurna dan dihargai oleh orang lain. Narsisme dalam psikoanalisis merupakan bentuk ekses dari ego ideal, di mana seseorang ingin memenuhi gambaran sempurna tentang dirinya tanpa menerima kenyataan tentang asal-usul atau status sosialnya.
Ketika sang gadis menolak mengakui ibunya karena malu, tindakan itu menunjukkan mekanisme represi dan denial (penyangkalan). Ia menolak realitas bahwa ia berasal dari keluarga miskin karena bertentangan dengan citra diri ideal yang ia bangun di hadapan masyarakat. Penyangkalan ini adalah bentuk pelarian dari kecemasan akibat ketidakmampuan mengatasi rasa malu. Sementara sang ibu mewakili superego suara moral yang berharap anaknya berbuat baik, patuh, dan menghormatinya. Ketika superego tidak diindahkan, konflik moral mencapai puncaknya.
Perubahan gadis menjadi batu merupakan simbol psikoanalitik dari kekakuan emosional dan penghentian perkembangan kepribadian. Dalam psikoanalisis, menjadi batu dapat dimaknai sebagai akhir dari dinamika psikologis: tokoh yang gagal berdamai dengan konflik batinnya membeku dalam rasa bersalah yang datang terlambat. Air mata yang terus mengalir melambangkan rasa penyesalan yang muncul setelah ego hancur dan superego mengambil alih dengan hukuman moral. Hukuman dalam bentuk transformasi ini adalah konsekuensi simbolis dari ketidakmampuan mengendalikan dorongan narsistik dan keinginan diri yang berlebihan.
Kesimpulan
Kedua cerita tersebut memperlihatkan konflik antara dorongan naluriah (id) dan larangan moral (superego), namun berada dalam konteks yang berbeda. Dalam Sangkuriang, konflik ini berakar pada hubungan anak–ibu yang rumit dan berkaitan erat dengan motif Oedipus. Sangkuriang tidak sadar bahwa dorongannya melanggar norma, sehingga konflik muncul ketika superego (Dayang Sumbi) mencoba menghentikannya. Sementara pada Batu Menangis, konflik lebih berfokus pada narsisme dan hubungan sosial, di mana tokoh utama sadar akan ibunya tetapi memilih menolak dan menekan kenyataan demi citra diri yang ideal.
Kedua cerita juga menunjukkan bagaimana tokoh yang tidak mampu mengendalikan dorongan bawah sadar akhirnya mengalami kehancuran. Sangkuriang mengekspresikan kemarahannya secara destruktif terhadap alam, sedangkan gadis dalam Batu Menangis mengalami transformasi menjadi batu sebagai simbol kebekuan psikologis akibat penyesalan. Tokoh utama yang durhaka kepada ibunya akhirnya menerima hukuman berupa kutukan menjadi batu yang menangis, sebagai bentuk konsekuensi moral atas tindakannya. Ini mencerminkan teori konsekuensialisme, di mana tindakan seseorang dinilai berdasarkan dampaknya (Kebung, 2016).
Daftar Pustaka
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia
Sari, D. (2019). Perilaku Prososial dalam Hubungan Keluarga
Kebung, P. (2016). Teori Etika: Sebuah Pengantar Filosofis. Jakarta: Grasindo.



















