TAJOM.ID, KOTA JAMBI — Meninggalnya Peko Pradana (34), sekuriti Mal Jambi Town Square (Jamtos) yang menjadi korban ledakan gudang catering, memicu sorotan keras dari netizen.
Sejumlah netizen bahkan menyerukan aksi boikot terhadap Jamtos. Seruan tersebut muncul setelah netizen menyoroti aktivitas akun media sosial resmi Jamtos yang dinilai tidak menunjukkan empati atas meninggalnya Peko.
Peko diketahui merupakan sekuriti Jamtos sekaligus salah satu dari enam korban yang mengalami luka bakar dalam insiden ledakan gudang catering pada Selasa (22/9/2026).
Peko meninggal dunia di rumah sakit pada Senin (5/10/2026) dini hari setelah menjalani perawatan akibat luka bakar yang dialaminya. Kabar tersebut dibenarkan Kasat Reskrim Polresta Jambi Kompol Husni Abda.
“Iya pak benar, satu orang meninggal dunia di RS pagi dini hari,” kata Husni, Senin (5/10/2026).
Peko sebelumnya sempat mendapatkan perawatan di RS Kambang sebelum dirujuk ke RS Siloam untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Ia mengalami luka bakar pada bagian wajah, kedua tangan, dan kaki.
Soroti Akun Resmi Jamtos
Di tengah kabar duka tersebut, perhatian netizen kemudian tertuju pada aktivitas akun media sosial resmi Jamtos.
Sejumlah netizen mempertanyakan tidak terlihatnya unggahan ucapan belasungkawa maupun penyampaian empati atas meninggalnya Peko, yang diketahui bekerja sebagai sekuriti di lingkungan Jamtos.
Sorotan semakin ramai setelah akun media sosial resmi Jamtos disebut masih menampilkan aktivitas promosi serta informasi lowongan pekerjaan.
Salah satu yang menjadi perhatian netizen adalah unggahan Instagram Story terkait lowongan kerja untuk posisi security yang disebut yang diunggah pada Senin, (5/10/2026) kemarin.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan kritik dari netizen. Mereka mempertanyakan komunikasi publik Jamtos di tengah kabar meninggalnya salah satu petugas keamanan yang menjadi korban ledakan di lingkungan mal tersebut.
Bahkan, sejumlah netizen menyerukan agar masyarakat melakukan boikot terhadap Jamtos sebagai bentuk protes atas apa yang mereka nilai sebagai minimnya empati kepada korban dan keluarga korban.
Seruan tersebut disampaikan netizen melalui media sosial dan menjadi bagian dari respons publik setelah kabar meninggalnya Peko Pradana.
Bagi netizen yang menyampaikan kritik tersebut, ucapan belasungkawa dinilai menjadi bentuk penghormatan dan empati yang penting, terlebih korban merupakan bagian dari petugas keamanan yang bekerja di lingkungan Jamtos.
Polisi Masih Selidiki Penyebab Ledakan
Sementara itu, proses penyelidikan terkait ledakan gudang catering Jamtos masih berlangsung.
Peristiwa ledakan terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 19.18 WIB dan menyebabkan enam orang mengalami luka bakar. Dengan meninggalnya Peko, insiden tersebut kini menelan satu korban jiwa.
Kasat Reskrim Polresta Jambi Kompol Husni Abda mengatakan, penyidik telah memeriksa sembilan orang saksi, termasuk para korban dan pihak manajemen Jamtos.
“Saat ini penyidik masih terus mendalami peristiwa tersebut, penyidik telah memeriksa 9 orang saksi termasuk para korban dan manajemen,” kata Husni.
Selain pemeriksaan saksi, polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dengan melibatkan Bidlabfor Polda Sumatera Selatan.
“Dan telah dilakukan olah TKP dari Bidlabfor Polda Sumsel,” ujarnya.
Husni mengatakan, hasil pemeriksaan dan olah TKP nantinya menjadi bagian dari proses penyidikan untuk mengetahui penyebab pasti ledakan.
“Kesimpulannya seperti apa nanti akan disampaikan ketika penyidikan telah rampung pak,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, sorotan terhadap aktivitas media sosial Jamtos dan seruan boikot dari sejumlah netizen turut menyertai kabar duka meninggalnya Peko Pradana.
Di sisi lain, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti ledakan yang menyebabkan enam orang mengalami luka bakar tersebut.(*)
















