• Latest
  • All
  • Artikel
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum

Mahasiswa UNJA Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT TPL, Desak Pemerintah Ambil Sikap Tegas

14/05/2025

9 Tahun Bekerja Dengan Status Kontrak, Randu Kurniawan Gugat Perumda Tirta Mayang ke PHI Jambi

01/07/2026

KAMI Soroti Dugaan Tambang Batu Bara Ilegal di Lampung, Desak Aparat Usut Tuntas

02/07/2026

Humbang Hasundutan Butuh Kepastian Tata Kelola, Bukan Rivalitas Jabatan

30/06/2026

GMNI Jambi Resmi Laporkan Wakil Ketua DPRD Jambi, Soroti Dugaan Pelanggaran Etik atas Program MBG

30/06/2026

Kebutuhan Darah Capai 18 Ribu Kantong Setahun, Wali Kota Maulana Dorong Gerakan Donor Sukarela

29/06/2026
Anggota Komisi V DPR RI H.Bakri HM. [Dok.Istimewa]

Jatuh Sakit, Anggota DPR RI H. Bakri Dikabarkan Dirawat di RS Medistra Jakarta

28/06/2026

Wawako Diza Buka Workshop Digital Marketing, Dorong Milenial Jambi Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif Modern

27/06/2026

Wali Kota Jambi Lepas 97 Atlet Sepatu Roda Ikuti Kejuaraan Nasional Pariaman Open 2026

27/06/2026

Dekranasda Kota Jambi Dorong Generasi Muda Mandiri Lewat Pelatihan Membatik

24/06/2026

Buntut “Pasang Badan” Untuk MBG, Ivan Wirata dilaporkan Ke BK DPRD Provinsi Jambi

24/06/2026
Tajom.id
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL
Tajom.id
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL
Home Daerah

Mahasiswa UNJA Soroti Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT TPL, Desak Pemerintah Ambil Sikap Tegas

by Redaksi
14/05/2025
in Daerah
0

TAJOM.ID, JAMBI – Rijal Lumban Gaol, mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) menyatakan keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan yang terus meluas di kawasan Tanah Batak. Ia menyoroti aktivitas PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan yang telah beroperasi sejak 1983 di Provinsi Sumatera Utara, sebagai penyebab utama krisis ekologis di wilayah tersebut.

Kerusakan yang ditimbulkan, antara lain berupa banjir bandang, tanah longsor, pencemaran tanah, air, dan udara, hingga hilangnya lahan produktif milik masyarakat adat. Dampak tersebut, menurut Rijal, semakin hari semakin parah dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal.

Gelombang penolakan terhadap PT TPL pun terus disuarakan oleh para aktivis dan kelompok peduli lingkungan dengan slogan “Tutup TPL” sebagai bentuk solidaritas atas kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 307/Menlhk/Setjen/HPL.0/7/2020, PT TPL menguasai konsesi hutan seluas 167.912 hektare. Namun di lapangan, wilayah konsesi ini masih kerap tumpang tindih dengan lahan adat, memicu konflik berkepanjangan.

“Saya sebagai putra Tanah Batak sangat prihatin atas kerusakan yang ditimbulkan oleh PT TPL yang beroperasi di berbagai daerah. Banyak pihak telah dirugikan, termasuk masyarakat adat seperti Sorbatua Siallagan dari Sihaporas, Dolok Parmonangan, yang harus berhadapan dengan pengadilan karena menyuarakan penolakan terhadap TPL,” kata Rijal.

Ia juga menyinggung sejumlah bencana dan konflik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seperti banjir di Tapanuli Utara (30 Desember 2024), tanah longsor di Bakkara (2 Desember 2023), serta konflik agraria di Kecamatan Parlilitan.

Kasus kekerasan dan pemblokiran akses hutan adat oleh PT TPL terhadap masyarakat adat Nagasaribu Onan Harbangan dan Pohan Jae, Kecamatan Siborongborong, juga disebut sebagai bukti nyata dari ketimpangan relasi antara korporasi dan warga.

“Kami sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo, untuk menindaklanjuti persoalan ini. Apalagi beliau mengusung konsep ekonomi hijau dalam delapan Asta Cita yang dicanangkan,” tegas Rijal.

Ia juga menyatakan dukungannya terhadap perjuangan para aktivis lingkungan, termasuk suara tegas dari Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan, LSM, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil yang menolak keberadaan PT TPL.

Meski PT TPL disebut telah memberikan lapangan kerja bagi sebagian warga, Rijal menilai hal tersebut tidak sebanding dengan kerusakan ekologis yang terjadi di kawasan Danau Toba.

“Maka dari itu, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat adat Batak untuk bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap TPL. Jangan takut bersuara. Tanah ini milik kita, bukan milik TPL,” seru Rijal.

Melalui media sosial, Rijal mengajak masyarakat luas untuk menyuarakan keprihatinan yang sama. Ia menutup pernyataannya dengan slogan: “Arga do Bona Ni Pinasa Di Akka Na Bisuk Marroha”—yang berarti: jika kita mencintai rumah kita, sudah sepatutnya kita bersatu melawan pihak-pihak yang merusaknya. (*)

Tags: Toba Pulp LestariTUTUP TPL
Share201Tweet126SendScan
Previous Post

Lagi, GBRK Desak Kejati Usut Dugaan Korupsi 20 Miliar Proyek Rehabilitasi Masjid Agung Tanjabtim

Next Post

AMEIZING DEAL! 2 Unit Terakhir Ruko Premium di Jambi Business Center, Cuma Rp1,99 M Selama Mei !

Related Posts

No Content Available
Next Post

AMEIZING DEAL! 2 Unit Terakhir Ruko Premium di Jambi Business Center, Cuma Rp1,99 M Selama Mei !

Kunjungi Polres Bungo, Kapolda Jambi Dorong Inovasi dan Perangi Narkoba

Mantap ! Waka DPRD Kota M Yasir Dukung Pembentukan Koperasi Merah Putih

Musoprov Koni Jambi Deadlock : Koni Pusat Ambil Kendali

Pemprov Jambi jalin kerja sama dengan FAO deteksi penyakit ikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

https://tajom.id/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260323-WA0019.mp4

Arsip

Tajom.id

Copyright © 2025 Tajom.id

  • Beranda
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Tentang Kami
  • Perlindungan

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL

Copyright © 2025 Tajom.id