TAJOM.ID, KISARAN – Aksi unjuk rasa mahasiswa yang digelar di Kejaksaan Negeri Kisaran dan Mapolres Asahan, Selasa (9/8/2025), berakhir dengan audiensi di Kantor BRI Cabang Kisaran.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu dialihkan setelah pihak kepolisian menyampaikan permintaan manajemen BRI agar mahasiswa menyampaikan aspirasinya langsung di dalam kantor.
Koordinator lapangan, Awi, menerima tawaran tersebut. Namun, ia dan rekan-rekannya mengaku kecewa karena tidak ditemui langsung oleh Pimpinan Cabang BRI Kisaran. Mereka hanya diterima oleh Liza (Sekretaris Cabang) dan Sayed Uman (Manajemen Risiko).
Dalam audiensi, Awi menyampaikan sejumlah dugaan dan tuntutan:
1. Praktik KKN dalam Pengadaan Barang
Seorang karyawan berinisial S dituding menjadi “proyek mafia” dalam pengadaan alat tulis kantor (ATK). Oknum tersebut diduga mengatur vendor tertentu dan menerima biaya. Mahasiswa juga menuding Pimpinan Cabang ikut terlibat.
2. Penyelewengan Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Mahasiswa menilai ada dugaan korupsi dalam penyaluran KUR melalui data nasabah fiktif.
3. Potongan Biaya Nasabah
Mereka juga menyoroti adanya potongan Rp50 ribu saat penutupan rekening tanpa penjelasan jelas, yang dinilai sebagai perbuatan melawan hukum.
Berdasarkan dugaan tersebut, mahasiswa menuntut Polres Asahan dan Kejaksaan Negeri Kisaran segera menyelidiki oknum S serta menindak Pimpinan Cabang. Mereka juga meminta Pimpinan Wilayah BRI Sumut mencopot pimpinan cabang Kisaran, memeriksa data nasabah penerima KUR, dan mengimbau masyarakat lebih berhati-hati sebagai nasabah BRI.
Awi menegaskan, bila tuntutan itu tidak ditindaklanjuti, mahasiswa akan menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar.
Menangapi tuntutan mahasiswa, perwakilan BRI memberikan jawaban yang dinilai normatif.
Sayed Uman menegaskan bahwa manajemen risiko bersifat independen dari pimpinan cabang dan terhubung langsung ke pusat. Menurutnya, BRI memiliki tim audit internal yang siap menindak tegas jika ditemukan bukti pelanggaran.
“Negara kita negara hukum. Kalau ada bukti, silakan ditindak,” ujarnya.
Sementara itu, Liza menyampaikan bahwa pimpinan cabang sedang tidak berada di tempatnya. Ia berjanji akan meneruskan aspirasi siswa kepada atasan.
Johan Iskandar, salah satu mahasiswa, menyatakan kecewa dengan jawaban pihak BRI yang dinilai hanya normatif dan tidak memberi kejelasan.
Audiensi pun berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan tuntutan mahasiswa untuk ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang maupun manajemen BRI pusat.





















