• Latest
  • All
  • Artikel
  • Politik
  • Pendidikan
  • Hukum

‎Antara Efisiensi Anggaran dan Gairah Entertainment Kepala Daerah Berkedok Kirab Budaya

13/11/2025

9 Tahun Bekerja Dengan Status Kontrak, Randu Kurniawan Gugat Perumda Tirta Mayang ke PHI Jambi

01/07/2026

KAMI Soroti Dugaan Tambang Batu Bara Ilegal di Lampung, Desak Aparat Usut Tuntas

02/07/2026

Humbang Hasundutan Butuh Kepastian Tata Kelola, Bukan Rivalitas Jabatan

30/06/2026

GMNI Jambi Resmi Laporkan Wakil Ketua DPRD Jambi, Soroti Dugaan Pelanggaran Etik atas Program MBG

30/06/2026

Kebutuhan Darah Capai 18 Ribu Kantong Setahun, Wali Kota Maulana Dorong Gerakan Donor Sukarela

29/06/2026
Anggota Komisi V DPR RI H.Bakri HM. [Dok.Istimewa]

Jatuh Sakit, Anggota DPR RI H. Bakri Dikabarkan Dirawat di RS Medistra Jakarta

28/06/2026

Wawako Diza Buka Workshop Digital Marketing, Dorong Milenial Jambi Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif Modern

27/06/2026

Wali Kota Jambi Lepas 97 Atlet Sepatu Roda Ikuti Kejuaraan Nasional Pariaman Open 2026

27/06/2026

Dekranasda Kota Jambi Dorong Generasi Muda Mandiri Lewat Pelatihan Membatik

24/06/2026

Buntut “Pasang Badan” Untuk MBG, Ivan Wirata dilaporkan Ke BK DPRD Provinsi Jambi

24/06/2026
Tajom.id
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL
Tajom.id
No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL
Home Opini

‎Antara Efisiensi Anggaran dan Gairah Entertainment Kepala Daerah Berkedok Kirab Budaya

by Redaksi
13/11/2025
in Opini
0

Oleh: Fadhil Ikhsan Mahendra

TAJOM.ID, JAMBI – Kata “efisiensi” kini menjadi alibi baru di ruang birokrasi daerah. Setiap pemangkasan anggaran untuk pendidikan, kesehatan,pelayanan publik, dan pembangunan selalu dibungkus dengan alasan klasik, rasionalisasi fiskal atau efisiensi anggaran. Tapi ironisnya, di balik dalih penghematan itu, panggung entertainment kepala daerah terus digelar, seperti festival, kirab budaya hingga beragam seremonial yang dampak nya tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang di lontarkan untuk pelaksanaan agenda demikian.

‎Inilah paradoks yang menampar nalar publik. Kepala daerah berbicara tentang kesederhanaan, namun memerintah dengan kemewahan.

‎Efisiensi dijadikan tameng, sementara praktik pemborosan tetap berjalan di balik nama “kearifan lokal” dan “pelestarian budaya”. Padahal publik tahu yang sering dilestarikan bukan budayanya, melainkan panggung politik pencitraannya.

‎Dalam kerangka tata kelola pemerintahan, efisiensi bukan hanya soal angka di laporan keuangan, melainkan soal etik dan logika kebijakan. Prinsip efisiensi mengandung kewajiban moral untuk memastikan setiap rupiah kembali kepada kepentingan rakyat. Tetapi hari ini, banyak kepala daerah justru mengartikannya secara terbalik, hemat untuk rakyat, boros untuk pejabat.

‎Fenomena “entertainment politik” ini tumbuh subur karena dua hal : pertama, lemahnya mekanisme kontrol publik kedua, budaya politik yang menganggap kekuasaan sebagai panggung, bukan mandat. Akibatnya, arah pembangunan bergeser dari kebutuhan rakyat ke kebutuhan citra.

‎Setiap kegiatan seremonial menjadi strategi komunikasi politik terselubung, pencitraan yang dibiayai oleh penderitaan fiskal.

‎Pertanyaannya sederhana, Jika efisiensi benar dijalankan, mengapa kegiatan simbolik tetap menjadi prioritas?

‎Jika rakyat diminta berkorban, mengapa pejabat tidak memberi teladan penghematan? Jika kirab budaya diklaim sebagai promosi daerah, di mana laporan akuntabilitasnya, siapa yang diuntungkan, dan apa dampak nyatanya bagi rakyat kecil?

‎Kritik ini bukan penolakan terhadap budaya, melainkan penegasan terhadap etika publik. Budaya adalah nilai, bukan alat pencitraan. Ketika budaya dipentaskan di bawah lampu panggung kekuasaan, dengan anggaran besar, ia kehilangan makna menjadi sekadar dekorasi politik.

‎Efisiensi tanpa kejujuran adalah propaganda, dan penghematan tanpa prioritas rakyat hanyalah sandiwara administratif.

‎Pemerintahan yang sehat bukan diukur dari seberapa sering menggelar acara, tetapi dari seberapa berani menolak pemborosan.

Penulis Merupakan ‎Koordinator Aliansi BEM Nusantara daerah Jambi

Tags: Efisiensi AnggaranGairah EntertainmentKirab Budaya
Share198Tweet124SendScan
Previous Post

Hanya Dalam Setahun, Edi Purwanto Sudah Berhasil Realisasikan Sejumlah Program Ke Rakyat Jambi

Next Post

Viral Dugaan Hubungan Terlarang, Kasus PJU Polda Jambi Didemo di Mabes Polri

Related Posts

No Content Available
Next Post

Viral Dugaan Hubungan Terlarang, Kasus PJU Polda Jambi Didemo di Mabes Polri

HUT ke-11 PSI: Romi Hariyanto Tegaskan PSI Bukan Partai Golongan Tertentu

Wali Kota Jambi Maulana Siap Terapkan Pembelajaran KPPD untuk Percepatan Transformasi Pembangunan Daerah

Perbandingan: “Sangkuriang” dan “Batu Menangis” dengan Psikoanalis Freud

BEM Nusantara Jambi Gelar Temu Daerah Pertama, Tegaskan Komitmen Perkuat Solidaritas dan Gerakan Perubahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

https://tajom.id/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260323-WA0019.mp4

Arsip

Tajom.id

Copyright © 2025 Tajom.id

  • Beranda
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Tentang Kami
  • Perlindungan

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • OLAHRAGA
  • PERISTIWA
  • OPINI
  • ARTIKEL

Copyright © 2025 Tajom.id