TAJOM.ID, Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menegaskan komitmennya untuk berpihak pada rakyat terdampak krisis lingkungan, sekaligus meluncurkan REDLAB demi penguatan ideologi di era digital.
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) secara tegas menyatakan komitmennya untuk selalu berada di sisi masyarakat yang terkena dampak krisis lingkungan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara pengukuhan dan reposisi organisasi yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (16/1).
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI, Sujahri Somar, menekankan bahwa komitmen ini bukan hanya respons sesaat terhadap bencana. Namun, merupakan bagian dari advokasi berkelanjutan untuk kebijakan pembangunan yang adil dan berwawasan lingkungan.
Menurut Sujahri, reposisi GMNI menegaskan bahwa krisis lingkungan adalah isu fundamental kemanusiaan dan keadilan sosial. Organisasi ini berkomitmen untuk hadir, berpihak, dan bertindak dalam setiap krisis yang terjadi.
GMNI dan Krisis Lingkungan: Isu Kemanusiaan dan Keadilan Sosial
GMNI dan Krisis Lingkungan: Isu Kemanusiaan dan dan Keadilan Sosial
Sujahri Somar menyoroti bahwa krisis lingkungan yang melanda berbagai wilayah Indonesia, seperti banjir dan longsor di Sumatera, bukanlah sekadar fenomena alam biasa. Ia menilai, bencana tersebut merupakan konsekuensi langsung dari ketimpangan relasi antara manusia, kebijakan, dan alam itu sendiri.
Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan dan keselamatan masyarakat menjadi pemicu utama bencana ekologis yang terus berulang. Ketika eksploitasi sumber daya alam dilegalkan atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi, masyarakat kecil selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dan seringkali terabaikan suaranya.
Sebagai bentuk solidaritas nyata, GMNI telah aktif menggalang serta menyalurkan donasi kepada para korban bencana di Sumatera. Bagi GMNI, tindakan solidaritas ini bukan sekadar aksi simbolis, melainkan perwujudan awal dari perjuangan ideologis yang berlandaskan Marhaenisme.
“Marhaenisme hidup ketika keberpihakan diwujudkan dalam tindakan,” tegas Sujahri, menggarisbawahi pentingnya aksi konkret dalam menjalankan ideologi kerakyatan yang mereka anut.
REDLAB: Memperkuat Ideologi di Era Digital
Dalam kesempatan yang sama, GMNI memperkenalkan inisiatif terbarunya, REDLAB (Laboratorium Merah). Laboratorium ini merupakan pusat analitik media dan kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk memperkuat kaderisasi ideologis GMNI di tengah dinamika era digital.
Peluncuran REDLAB disampaikan langsung oleh Sujahri sebagai bagian integral dari agenda reposisi besar GMNI, yang bertujuan untuk kembali meneguhkan semangat Marhaenisme. Marhaenisme sendiri adalah ideologi kerakyatan yang menolak kapitalisme dan imperialisme, serta mengedepankan persatuan nasional dan kesejahteraan rakyat kecil melalui ekonomi kolektif dan demokrasi.
Sujahri menjelaskan bahwa medan perjuangan saat ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik seperti jalanan atau kelas, melainkan telah meluas ke ruang digital. Ruang ini dipenuhi dengan algoritma, big data, dan pertarungan narasi yang membentuk opini publik.
“Ketimpangan hari ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal informasi,” ujar Sujahri. Ia menambahkan bahwa pihak yang menguasai data dan narasi akan memiliki kekuatan untuk menentukan arah kesadaran publik.
Inovasi REDLAB: Buletin Zaken dan GMNI.AI
REDLAB hadir sebagai respons GMNI terhadap kompleksitas informasi di era modern. Laboratorium ini secara spesifik berfokus pada analisis percakapan publik, pemetaan opini di media, serta pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan ideologis.
Tujuan utama REDLAB bukanlah untuk memanipulasi informasi, melainkan untuk membekali para kader GMNI agar mampu menganalisis realitas sosial secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab. Ini demi memastikan mereka tidak terombang-ambing dalam arus informasi yang masif.
Dari inisiatif REDLAB ini, telah lahir dua produk unggulan. Pertama adalah Buletin Zaken, sebuah produk analisis media berbasis data yang mengupas isu-isu publik secara rasional. Kedua adalah GMNI.AI, sebuah platform kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendemokratisasikan pengetahuan bagi seluruh kader GMNI di Indonesia.
Melalui pengukuhan ini, GMNI menegaskan bahwa Marhaenisme tidak anti-teknologi. Sebaliknya, ideologi harus menjadi panduan bagi teknologi, bukan sebaliknya. REDLAB menjadi simbol kesiapan GMNI menghadapi masa depan dengan kedaulatan ideologis, adaptif secara teknologi, dan konsisten berpihak pada rakyat.
(AHP)




![Wiranto B. Manalu tantang Kajati Ungkap Pengembalian Dana Ganti Rugi Rp.45 M ke PT WKS. [Dok.Ilustrasi]](https://tajom.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260328-WA0036-75x75.jpg)
















