Oleh : Ima Siti Fatimah
TAJOM.ID, JAKARTA – Ekonomi Indonesia menutup tahun 2025 dengan sebuah catatan stabilitas yang unik. Di tengah guncangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan global, mesin ekonomi nasional tetap konsisten beroperasi pada level “angka keramat” 5 persen. Namun, di balik angka makro yang nampak kokoh ini, terdapat pergeseran struktural dan tekanan pada kesejahteraan riil yang menuntut perhatian lebih dari sekadar statistik pertumbuhan.
Stabilitas di Atas Fondasi yang Melandai
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2025 mencapai 5,04 persen. Meski angka ini sedikit melambat dibandingkan capaian triwulan II sebesar 5,12 persen, realisasi tersebut tetap berada di atas ekspektasi pasar. Jika ditarik garis dari tahun 2023 yang tumbuh 5,05 persen dan tahun 2024 sebesar 5,03 persen, Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa dibandingkan rata-rata negara berpendapatan menengah lainnya.
Sektor manufaktur menjadi pahlawan di sisi produksi dengan pertumbuhan 5,54 persen, didorong oleh peningkatan permintaan produk logam dasar akibat kebijakan hilirisasi yang mulai matang. Namun, anomali terjadi di sektor pertambangan yang justru terkontraksi 1,98 persen pada triwulan III-2025, dipicu oleh penurunan harga nikel global dan hambatan operasional pada komoditas tembaga.
Dilema Kelas Menengah: Pertumbuhan Tanpa Kenaikan Upah?
Laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) dari Bank Dunia pada Desember 2025 menyuntikkan realitas pahit ke dalam narasi pertumbuhan ini. Meskipun ekonomi tumbuh stabil, kualitas lapangan kerja masih menjadi tantangan besar. Tercatat bahwa antara tahun 2018 hingga 2024, upah riil di Indonesia justru mengalami penurunan rata-rata 1,1 persen per tahun.

Kondisi ini menciptakan sentimen pesimisme pada ekspektasi penghasilan konsumen, yang tercermin dalam penurunan indeks dari 135,4 menjadi 133,2 pada pertengahan tahun.
Jangkar Kebijakan: Antara Stimulus MBG dan Disiplin BI
Menghadapi tekanan pada daya beli, pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu instrumen stimulus. INDEF memperkirakan program ini mampu menyumbang tambahan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,10 persen pada 2025 dan menyerap sekitar 820.000 tenaga kerja baru di sepanjang rantai pasok lokal.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) tetap mengambil posisi waspada namun akomodatif. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 4,75 persen. Kebijakan ini merupakan langkah “keseimbangan sulit” untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian kebijakan bank sentral AS (The Fed), sembari memberi ruang bagi pemulihan sektor riil.
Danantara dan Ambisi Investasi Baru
Langkah transformatif lainnya ditandai dengan manuver Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Pada kuartal IV-2025, lembaga ini merencanakan investasi sebesar USD 10 miliar, di mana 80 persennya dialokasikan untuk proyek domestik di sektor energi terbarukan, pangan, dan infrastruktur digital. Investasi ini diharapkan menjadi motor pertumbuhan baru yang tidak lagi hanya bergantung pada siklus harga komoditas mentah.
Proyeksi 2026–2027: Jalan Panjang Menuju High-Income
World Bank dan IMF memproyeksikan Indonesia akan tetap tumbuh di kisaran 5,0 persen pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027. Namun, kunci utamanya terletak pada reformasi pasar tenaga kerja dan percepatan infrastruktur digital. Peningkatan kualitas internet dan digitalisasi layanan publik disebut sebagai fondasi krusial untuk menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi yang mampu membayar upah standar kelas menengah.
Pertumbuhan 5 persen memang menjadi bukti ketahanan nasional, namun tahun 2025 mengingatkan kita bahwa stabilitas angka di atas kertas tidak selalu mencerminkan kesejahteraan di meja makan masyarakat. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar mengejar angka, melainkan memastikan bahwa setiap persentase pertumbuhan mampu mengembalikan martabat ekonomi kelas menengah Indonesia
Penulis Ima Siti Fatimah, Merupakan Mahasiswi Magister Pendidikan Ekonomi UNJ





















